Mencari YB? Kena fikir la dulu...

March 06, 2008

"Pemimpin seharusnya menyenangkan, membela nasib rakyat.. bukan sebaliknya"

Hidup adalah pilihan, yang menuntut setiap orang yang masih hidup untuk membuat pilihan dalam hidupnya. Jika hidup adalah bergerak, dan bergerak berarti maju, tentunya setiap orang wajib membuat pilihan tentang apa yang mesti dan apa yang tidak boleh ia kerjakan. Setelah membuat pilihan tentang apa yang mesti ia kerjakan, ia juga dituntut untuk memilih mana yang lebih utama yang mesti dikerjakan dalam bentuk skala prioriti dan keutamaan. Sebagai contoh; dalam kehidupan sehari-hari seseorang mesti memilih antara duduk atau berdiri, berdiri atau berjalan, tidur atau bekerja dan lain-lain. Ahli hikmah berkata: ”sesungguhnya hidup ini adalah rantai pembuatan keputusan”. Secara hakikat, sesungguhnya, keberadaan manusia di dunia ini adalah khalifah yang memimpin dunia dengan segala kebijaksanaan yang dimiliki. Kebijaksanaan setiap individu biasanya diukur dengan cara dan bagaimana seseorang membuat keputusan dalam hidupnya. Apakah keputusan tersebut dapat dianggap baik dan tepat karena sangat sesuai dengan tempat, keadaan dan waktu, serta berpihak kepada kepentingan orang banyak ataupun sebaliknya.

Dalam membuat sebuah keputusan, terutama dalam meletakkan pilihan, tentunya seseorang dituntut untuk memiliki beberapa hal penting yang menjadi pra-syarat baginya dalam membuat sebuah keputusan yang dianggap tepat dan bijaksana, terutama untuk memilih seorang pemimpin yang akan menjadi panutan dan figur bagi rakyak dan seluruh elemen masyarakat. Hal-hal tersebut adalah;


1. Kematangan pola pikir yang dapat diukur dengan tingkat pendidikan yang diperoleh, atau pengalaman yang dimiliki melalui sekolah alam yang terbentang luas di hadapan kita. Membaca setiap fenomena dan mencermati setiap gejolak yang terjadi, serta mencari hikmah dari setiap peristiwa.


2. Kematangan jiwa atau psikologis, yang oleh majoriti penduduk dunia meletakkan usia 21 tahun sebagai usia minima untuk dapat dianggap layak ikut serta dalam proses pemilihan. Pada sisi lain, di Indonesia, usia 17 tahun ditetapkan oleh undang-undang sebagai batas minimal usia untuk memilih, yang tentunya perlu kita pertanyakan kembali, karena beberapa hal yang menjadi pertanyaan utama terhadap hal ini tentunya masih sukar untuk dijawab. Kematangan apakah yang dimiliki seseorang pada usia 17 tahun? Apakah ia sudah terbebas dari rasa suka atau tidak suka dalam membuat ( like or dislike basis ) pilihan? Wajarkah seseorang yang berusia 17 tahun ikut andil dalam menentukan siapakah pemimpin negara? Bukankah persepsi seseorang yang berusia 17 tahun dalam memilih pemimpin negara secara defacto adalah persepsi nyata dalam mengatur dan mengurus negara? Wajarkah bila pilihan seseorang yang berusia 17 tahun senilai dengan pilihan seorang Profesor yang kaya dengan ilmu dan luas dengan wawasan?


3. Informasi yang cukup dan konkrit tentang hal-hal atau orang-orang yang diputuskan untuk dipilih. Hal ini dapat diukur dengan kadar pengetahuan tentang hal-hal berikut; Apakah kita sudah mengetahui latar belakang para calon secara jelas dan pasti? Apakah mereka bersih dari skandal dan kriminal ataupun penyelewengan moral lainnya? Bagaimanakah kiprah dan performance mereka sekarang? Sudahkah secara tepat kita dapat memprediksi sepak terjang mereka pada masa yang akan datang? Tanpa informasi yang lengkap tentunya kita akan sama dengan orang yang hendak mengenal gajah dalam kegelepan, atau membeli kucing dalam karung. Keputusan kita akan selalu salah dan membawa penyesalan yang berkepanjangan.


4. Pemahaman yang baik tentang roda zaman. Setiap zaman memiliki karekteristik yang tersendiri baginya, yang menjadi nilai utama pada zaman tersebut. Tuntuntan zaman dan budaya hidup tentunya sangat mempengaruhi kita dalam membuat keputusan. Di zaman penjajahan kita perlukan seorang pahlawan dan kesatria yang berani bertempur di medan laga. Di zaman perjuangan kemerdekaan kita perlukan tokoh karismatik yang dapat menghimpun semua kekuatan bangsa, dan di zaman kemerdekaan kita perlu seorang pemimpin yang futuristik, inovatif, kreatif, profesional dan agamis.

Kemerdekaan yang telah kita nikmati selama 57 (kelu: Malaysia dah 50) tahun lamanya dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih memperihatinkan, tentunya sangat erat hubungannya dengan kualitas kepemimpinan bangsa yang kita miliki hari ini. Sesungguhnya kualitas kepemimpinan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas rakyat dan elemen masyarakat yang menentukan pilihan mereka dalam memilih para pemimpin bangsa pada semua level kepemimpinan yang ada. Jika rakyat tersalah pilih tentunya mereka harus membayarnya dengan kemunduran, kemiskinan dan keterbelakangan yang tragis dan nyata. Demokrasi yang berkualitas hanya akan terwujud apabila proses pencerdasan bangsa berjalan secara konsisten dan berkualitas, sehingga kita tidak selalu berada pada posisi darurat dalam membuat pilihan yang sangat krusial bagi masa depan bangsa dan negara.


Adalah sesuatu yang sangat ironi dan menyedihkan apabila kita lihat secara dekat dan melakukan komparasi nyata terhadap cara dan kiat masyarakat Barat dalam memilih pemimpin mereka. Perbedaan ketara dan absensi prinsip serta nilai-nilai murni, agama serta moral dalam kehidupan masyarakat Barat, tidak menjadikan mereka masyarakat yang buta nilai-nilai murni sehingga mereka memilih pemimpin mereka secara membabi buta. Masyarakat Barat memang menghadapi dekadensi moral dalam skop kehidupan keluarga dan masayarakat, tetapi mereka tak pernah rela untuk dipimpin oleh orang-orang yang memiliki cacat moral dan tidak memiliki kredibilitas keperibadian. Senator Garry sebagai contoh, adalah calon terkuat untuk menjadi Presiden Amerika, ternyata harus mundur, karena masyarakat Amerika secara mayoritas menolak pencalonannya yang terlibat skandal dengan seorang wanita. Hal yang sama juga terjadi di Jepun dan beberapa negara lainnya, padahal hal tersebut sangat sering kita abaikan dalam memilih seorang pemimpin walaupun kita sering mengaku sebagai masyarakat yang beragama. Hal tersebut sering kita anggap remeh dan bersifat pribadi yang tidak perlu kita campuri. Adalah ironi dan sarkastik sekali, apabila masyarakat yang menghadapi masalah moral, tetapi tak ingin dan tak rela dipimpin oleh orang yang memiliki masalaha moral, sementara kita, yang selalu berbangga dengan klaim agama dan moral, namum secara defacto rela dan ikhlas untuk dipimpin oleh seseorang yang memiliki masalah moral dan etika.

Dalam memilih pemimpin masyarakat Barat secara umum telam memiliki semua pra-syarat yang tersebut di atas, sehingga selalu membuat pilihan yang tepat dalam memilih pemimpin mereka. Setiap pemimpin yang mereka pilih adalah orang-orang yang cerdas, berpendidikan tinggi, kompetibel, inovatif, variatif, berwawasan luas, nasionalis dan patriotik, artikulatif dalam menyampaikan maksud dan pendapat serta komunikatif dalam hubungan sosial bersama masyarakat. Pemilihan yang tepat ini menjadikan masyarakat Barat menuai kemajuan demi kemajuan karena setiap pemimpin dengan keahliannya yang tersendiri membawa perubahan dan pembangunan yang berarti bagi negaranya. Pada sisi lain bangsa kita secara umum tidak memiliki kualitas yang tersebut di atas secara sempurna. Kita masih memilih berdasarkan rasa suka atau tidak suka dan dasar prinsip ekonomi; menguntungkan atau tidak, dan sangat jauh dari prinsip benar atau salah, baik atau buruk. Tingkat usia yang masih dini, wawasan dan ilmu yang terbatas serta terbatasnya calon yang akan dipilih telah membuka pintu eksploitasi bagi sebagian orang yang haus kekuasaan. Money politic atau politik uang dan propaganda lainnya serta janji-janji politik menjadi strategi yang dianggap jitu dalam meraih suara.

Masyarakat Barat memberikan nilai yang tinggi dan appresiatif terhadaf akurasi, validitas dan objektivitas visi dan misi setiap calon, sehingga hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kemenangan setiap calon pada setiap pemilihan. Namun kita yang memilih berdasarkan rasa suka atau tidak suka, tidak dapat memahami signifikansi visi dan misi seseorang secara jelas dan akurat. Sehingga terkesan bahwa, sebagian orang terpilih menjadi pemimpin walaupun tidak memiliki visi dan misi yang jelas dan baik. Rasionalisasi manifesto bagi masyarakat Barat adalah sesuatu yang wajib dalam menilai program kerja seorang calon, namun hal tersebut bagi kita, adalah hal yang kurang berguna tak lebih dari sekedar tinta diatas kertas semata.

Faktor agama juga sangat mempengaruhi masayarakat Barat dalam memilih pemimpin, hal tersebut, terlihat dengan jelas dalam pemilihan George W Bush yang menang dalam pemilu yang lalu karena mendapat dukungan gereja dan tokoh agama, namun kita mengalami hal yang sebaliknya. Para calon pemimpin yang mendapat dukungan masjid dan tokoh-tokoh agama sering mendapat kekalahan karena dukungan mereka, kurang berarti di mata sebagian masyarakat kita, justru mereka yang tidak mendapat dukungan dari tokoh agama sering terpilih sebagai pemimpin.

Secara jujur kita harus mengakui, bahwa selagi kita tidak merubah pola pikir dan budaya politik kita dalam membuat sebuah pilihan tentunya, kualitas demokrasi dan kepemimpinan kita juga tentunya sukar untuk berubah. Hanya masyarakat yang bijak yang dapat membuat pilihan bijak dalam memilih pemimpin mereka. Semakin cerdas bangsa kita membuat pilihan maka semakin berkualitaslah demokrasi yang miliki dan amalkan, serta semakin berkualitaslah barisan kepemimpinan bangsa yang kita miliki. Pepatah Melayu lama menyatakan: Hanya Jauhari Yang Kenal manikam atau hanya ahli permata yang mengenali permata yang paling mahal dan berharga. Hanya rakyat yang bijaklah yang mengenali pemimpin bijaksana yang menjadi harapan bangsa dan negara. Semuanya bermula dari kesadaran dan pengakuan, untuk menuju sebuah perubahan yang kita dambakan bersama. Wallohu A’lam.

Dipetik dari tulisan: Lukman Syarif

You Might Also Like

1 comments